Selasa, 13 Januari 2015


SEUTAS MIMPI UNTUK UKKI UNESA
Sekelumit cerita yang dapat aku bagikan kepadamu wahai sahabat.
Terkadang usai sholat, aku tidak langsung berdoa alih-alih malah merenung dan terkadang renungan tersebut menghasilkan impian. Suatu saat aku bermimpi, Baitul Makmur yang biasanya diurusi teman-teman UKKI Unesa menjadi seperti masjid Salman ITB. BM 1 memiliki gedung serba guna yang dapat digunakan untuk acara apapun. Kuota yang ditampung bisa ratusan dan banggunan tersebut bertingkat. Tidak tanggung-tanggung banggunan tersebut ada tiga lantai, yang di setiap lantai ada sekitar lima ruangan. Bangunan tersebut dapat digunakan oleh banyak Unit-Unit kegiatan mahasiswa yang mewadahi minat dan bakat teman-teman, bukan hanya untuk UKKI namun juga terbuka untuk mahasiswa non-UKKI bahkan non-Unesa. Uniknya kegiatan tersebut di bawah naungan masjid Baitul Makmur Unesa.
Kegiatan yang diselenggarakan UKKI di gedung tersebut misalnya, kelas menulis baik fiksi atau pun non-fiksi. Kelas itu akan menelurkan para penulis handal yang dapat membuahkan karya,juga para jurnalis yang dapat dijamin keabsahan brita yang disampaikannya. Bisa juga seni teater atau Al banjari yang selalu memeriahkan kegiatan baik UKKI maupun acara hajatan bagi masyarakat yang berminat.
Ada pula kegiatan para kawula muda pecinta alam yang gemar menaklukkan puncak gunung ataupun mengarungi samudra Indonesia. Selain itu ada tim cendekiawan yang suka berdiskusi secara rutin membahas tentang dunia Islam dan hal-hal terbaru maupun lampau tentang Islam. Semua kegiatan tersebut berjalan dengan apik. Banyak pula kegiatan-kegiatan social pengabdian masyarakat. Bukan hanya Bakti Karya Mahasiswa (BKM) yang terkesan sebagai ajang liburan para aktivis UKKI, namun lebih dari itu. Kegiatan tersebut benar-benar berdakwah mengajak kepada kebaikkan, tidak harus jauh dan memakan biaya namun esensi dakwahlah yang utama.
Lokasigedung tidak jauh dari masjid Baitul Makmur 1, tahukah kamu dimana? Yah terbayang bangunan besar yang belum jadi di belakang masjid. pada tahun 2013, banggunan tersebut masih ditumbuhi semak belukar, dindingnya masih berupa tumpukan batu bata merah dan belum memiliki satu pintu atau pun jendela sama sekali. Aku bermimpi sepuluh tahun lagi, banggunan itu akan milik sepenuhnya UKKI Unesa. bangunan tersebut berubah menjadi bangunan megah yang dapat digunakan untuk dakwah dan keperluan umat.
Tidak hanya itu, UKKI Unesa memiliki swalayan sendiri serta toko-toko kecil yang disewakan di dekat TPA Genius. Toko-toko itu menyediakan jasa pengetikan dan percetakan, lembaga bimbingan belajar dan ada pula yang menjual obat-obat herbal atau pun kaset-kaset music positif dan pakaian-pakaian islami. Tak kalah dari itu, UKKI memiliki bisnis travel yang melebar ke seantero jawa timur dan akan merambah ke seluruh pelosok pulau Jawa. Teman-teman UKKI juga yang menjadi pengelola dari bisnis besar tersebut. Roda perdagangan dikelola sendiri oleh teman-teman UKKI, baik yang sedang menjabat kepengurusan maupun para alumni UKKI. UKKI dapat membuka lapangan pekerjaan bagi semua pihak, khususnya teman-teman UKKI tak peduli angkatan berapapun kita tetap UKKI Unesa.
Aku teringat saat aku masih ingusan di UKKI dulu. Banyak tingkah yang aku lakukan. Saat aku berdiri di masaku sekarang aku sering tertawa geli. Aku terkadang iri dengan GAMAIS (Keluarga  mahasiswa Islam) maupun KAMIL (Keluarga Mahasiswa Islam) ITB. Jumlah anggotanya masih kalah dengan jumlah teman-teman UKKI Unesa yang terdiri dari empat wilayah kampus, yaitu ketintang, lidah wetan, teratai dan  gedangan. Namun, spirit kegiatan yang aku rasakan berbeda.
Hal pertama adalah spirit mentoring dan mengaji. Tidak harus tinggal di asrama untuk mengaji rutin, tidak pula harus berjilbab untuk ikut mentoring. Siapapun yang mau belajar tentang Islam, silahkan. Kita belajar bersama. Tidak harus merasa pandai dan fasih dalam agama, kita bisa membahas hal apapun tentang Islam yang kita sukai. Namun jelas harus ada pementor ulung yang selalu tawadhu dan ramah. Bukan saling menceramahi dan mendoktrin salah benar, namun lebih dari itu. Layaknya sebuah keluarga kecil yang memberikan sebersit kehangatan.
Sudah satu semester berlalu Aku dan kelompok mentoring kecilku saat ini di Salman ITB. Kami berkumpul setiap sabtu di akhir pekan, mulai jam delapan pagi hingga datang waktu sahalat dhuhur. Dimulai dari hafalan surat-surat Juz 30 yang kami setorkan kepada PJ Hafalan yang diemban salah satu teman kami dalam kelompok mentoring. Usai itu jam 9, kakak pementor kami datang, teteh Khadijah. Beliau berasal dari Riau, mahasiswa pascsarjana ITB angkatan 2013. Beliau juga alumni GAMAIS ITB. Bagi kami beliau tak sekedar pementor, namun juga kakak kami.
Kami semua dalam satu kelompok mentoring ini tidak memiliki ikatan keluarga dan hubungan darah. Namun kami serasa kakak-adik dan bersaudara. Setiap kali mentoring, ada satu pentausiah dari setiap anggota kelompok yang telah terjadwal dengan rapi. Awalnya kami membahas topic apapun seputar Islam. Kemudian pertemuan selanjutnya kami membahas kisah hidup Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca Sirah Nabawiyah. Kami membaca Sirah Nabawiyah bersama. Salah satu teman membacakan lembar demi lembar dengan penuh penghayatan, dan yang lainnya mendengarkan. Usai itu kami mendengarkan tausiah dari pementor kami. Kami berdiskusi dan saling bercerita. Sungguh Indahnya persaudaraan dalam Islam.
Sejenak aku kembali kelamunanku tentang UKKI, bagaimana kabarmu saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar