KENDALIKAN RASA TAKUT
YANG BERLEBIHAN
Saat itu adalah quiz pertama mata kuliah fisika matematika. Berbagai
persiapan telah dilakukan. Mulai dari meresume isi satu bab sampai latihan
soal-soal quiz terdahulu baik bersama teman atau pun mandiri. Saat soal quiz
dibagikan, tiba-tiba jantung berdegup makin kencang, mungkin secara tidak sadar
keringat dingin muncul, kepala bertambah berat dan sett…dalam sekejap pikiran
jadi kosong. Mungkin inilah yang biasa disebut murid atau mahasiswa ngeblank.
Sontak saja, saya terkaget Karena tidak
satu pun isi dalam otak dapat dikeluarkan untuk memikirkan sederet pertanyaan
di kertas quiz. Perasaan semakin campur aduk. Akhirnya hampir lima menit
berlalu satu pun soal belum terselesaikan. Hanya berputar-putar pada ingatan-ingatan
teori yang tidak jelas dan tidak focus. Bukan karena soal yang sulit, namun
perasaan takut dan grogi yang menghalangi untuk berpikir jernih.
Saya mulai berhenti sejenak, dan menghirup napas perlahan. Degup jantung
mulai stabil. Namun, tetap saja pikiran masih blank. Akhirnya nomor satu yang sebenarnya relative sangat mudah
mulai bisa terisi meski dengan keraguan yang amat sangat. Kemudian mulai
mengisi nomor-nomor selanjutnya. Keadaan mulai terkendali.
Setelah nomor 1 selesai, menginjak ke nomor 2. Tiba-tiba terpikir jawaban
nomor 1 yang lebih tepat. Akhirnya saya hitung kembali dan merasa yakin. Waktu itu
sangat mudah untuk mendotkan (–i+j-3k) dan (i-j-3k). namun hasil yang saya
dapat adalah -1+1+3. Hey…sepertinya saya tidak sadar bahwa jawaban itu kurang
tepat.
Usai quiz berlangsung. Saya telaah kembali jawaban saya. Ternyata saya
lupa bahwa 3k.3k adalah 9. Ya Allah, bagaimana bisa saya selupa itu. Bukankah
itu sangat mudah. Saat di rumah, saya mulai berpikir kembali apa yang membuat
saya kacau seperti itu. Saya ingat bahwa rasa takut yang berlebihan akan
mempercepat degub jantung, akhirnya pasokan darah ke otak jadi tergangu. Otak
menjadi kaget dan akhirnya pikiran menjadi kacau.
Rasa takut yang berlebihan sangat tidak baik. Itulah alasan mengapa kita
menjumpai berbagai kesalahan dalam mengerjakan suatu hal yang relative mudah.
Saya teringat saat menjadi guru. Dulu saya pernah mengoreksi jawaban siswa yang
mengalami hal yang sama dengan yang saya alami saat ini. Bagi saya soal itu
relative sangat mudah. Bahkan hampir seluruh siswa dalam satu kelas dapat
mengerjakan dengan benar. Namun, ada satu atau mungkin dua siswa yang salah.
Kala itu saya sangat heran, mengapa si anak itu bisa salah, padahal semua siswa
bisa menjawab dengan benar.
Analogi dari pengalaman yang saya dapatkan, bisa saja anak tersebut
benar-benar blank saat mengerjakan
soal. Perasaan takut akan pelajaran fisika yang berlebihan menjadi batu
penghalang bagi dia untuk mempelajari bahkan menyekesaikan persoalan fisika.
Rasa takut tersebut wajar dan pasti dialami juga oleh orang lain terlepas dari
usia dan kondisi apapun. Namun, segeralah untuk mengendalikan rasa takut
tersebut. Salah satu cara dengan mengatur napas, mengehala napas panjang dan katakan
dalam hati “tenang, saya sudah belajar. Pasti saya bisa”. Jika belum bisa
mengatasi rasa takut itu, coba tenang sesaat, jangan melihat soal dahulu dan
berdoalah. Kembali focus membaca soal. Jangan berpraduga apapun sebelum
mengetahui maksud dari pertanyaan di soal.
Saya tersadar bahwa saya mungkin akan kehilangan poin dan mendapat nilai
yang tidak seperti yang saya harapkan. Namun, saya mendapatkan nilai kehidupan
yang sangat berharga bahwa rasa takut itu wajar namun harus bisa mengendalikan
rasa takut tersebut. Ketika siswa mengalami kesalahan dalam mengerjakan soal
yang relative mudah, maka segeralah evaluasi diri. Yakinkan siswa bahwa quiz
itu tidak menakutkan, yakinkan bahwa fisika itu mudah. Yakinkan bahwa semua
persoalan dapat diatasi dengan baik apabila kita tenang. Ketenangan akan membuahkan
kejernihan. Dengan demikian, kita tidak akan terprosok dalam lubang yang sama.
Selamat belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar