Selasa, 02 September 2014


KENDALIKAN RASA TAKUT YANG BERLEBIHAN
Saat itu adalah quiz pertama mata kuliah fisika matematika. Berbagai persiapan telah dilakukan. Mulai dari meresume isi satu bab sampai latihan soal-soal quiz terdahulu baik bersama teman atau pun mandiri. Saat soal quiz dibagikan, tiba-tiba jantung berdegup makin kencang, mungkin secara tidak sadar keringat dingin muncul, kepala bertambah berat dan sett…dalam sekejap pikiran jadi kosong. Mungkin inilah yang biasa disebut murid atau mahasiswa ngeblank.
 Sontak saja, saya terkaget Karena tidak satu pun isi dalam otak dapat dikeluarkan untuk memikirkan sederet pertanyaan di kertas quiz. Perasaan semakin campur aduk. Akhirnya hampir lima menit berlalu satu pun soal belum terselesaikan. Hanya berputar-putar pada ingatan-ingatan teori yang tidak jelas dan tidak focus. Bukan karena soal yang sulit, namun perasaan takut dan grogi yang menghalangi untuk berpikir jernih.
Saya mulai berhenti sejenak, dan menghirup napas perlahan. Degup jantung mulai stabil. Namun, tetap saja pikiran masih blank. Akhirnya nomor satu yang sebenarnya relative sangat mudah mulai bisa terisi meski dengan keraguan yang amat sangat. Kemudian mulai mengisi nomor-nomor selanjutnya. Keadaan mulai terkendali.
Setelah nomor 1 selesai, menginjak ke nomor 2. Tiba-tiba terpikir jawaban nomor 1 yang lebih tepat. Akhirnya saya hitung kembali dan merasa yakin. Waktu itu sangat mudah untuk mendotkan (–i+j-3k) dan (i-j-3k). namun hasil yang saya dapat adalah -1+1+3. Hey…sepertinya saya tidak sadar bahwa jawaban itu kurang tepat.
Usai quiz berlangsung. Saya telaah kembali jawaban saya. Ternyata saya lupa bahwa 3k.3k adalah 9. Ya Allah, bagaimana bisa saya selupa itu. Bukankah itu sangat mudah. Saat di rumah, saya mulai berpikir kembali apa yang membuat saya kacau seperti itu. Saya ingat bahwa rasa takut yang berlebihan akan mempercepat degub jantung, akhirnya pasokan darah ke otak jadi tergangu. Otak menjadi kaget dan akhirnya pikiran menjadi kacau.
Rasa takut yang berlebihan sangat tidak baik. Itulah alasan mengapa kita menjumpai berbagai kesalahan dalam mengerjakan suatu hal yang relative mudah. Saya teringat saat menjadi guru. Dulu saya pernah mengoreksi jawaban siswa yang mengalami hal yang sama dengan yang saya alami saat ini. Bagi saya soal itu relative sangat mudah. Bahkan hampir seluruh siswa dalam satu kelas dapat mengerjakan dengan benar. Namun, ada satu atau mungkin dua siswa yang salah. Kala itu saya sangat heran, mengapa si anak itu bisa salah, padahal semua siswa bisa menjawab dengan benar.
Analogi dari pengalaman yang saya dapatkan, bisa saja anak tersebut benar-benar blank saat mengerjakan soal. Perasaan takut akan pelajaran fisika yang berlebihan menjadi batu penghalang bagi dia untuk mempelajari bahkan menyekesaikan persoalan fisika. Rasa takut tersebut wajar dan pasti dialami juga oleh orang lain terlepas dari usia dan kondisi apapun. Namun, segeralah untuk mengendalikan rasa takut tersebut. Salah satu cara dengan mengatur napas, mengehala napas panjang dan katakan dalam hati “tenang, saya sudah belajar. Pasti saya bisa”. Jika belum bisa mengatasi rasa takut itu, coba tenang sesaat, jangan melihat soal dahulu dan berdoalah. Kembali focus membaca soal. Jangan berpraduga apapun sebelum mengetahui maksud dari pertanyaan di soal.
Saya tersadar bahwa saya mungkin akan kehilangan poin dan mendapat nilai yang tidak seperti yang saya harapkan. Namun, saya mendapatkan nilai kehidupan yang sangat berharga bahwa rasa takut itu wajar namun harus bisa mengendalikan rasa takut tersebut. Ketika siswa mengalami kesalahan dalam mengerjakan soal yang relative mudah, maka segeralah evaluasi diri. Yakinkan siswa bahwa quiz itu tidak menakutkan, yakinkan bahwa fisika itu mudah. Yakinkan bahwa semua persoalan dapat diatasi dengan baik apabila kita tenang. Ketenangan akan membuahkan kejernihan. Dengan demikian, kita tidak akan terprosok dalam lubang yang sama. Selamat belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar