Kenaikan harga BBM merupakan isyu hangat akhir-akhir ini. Layaknya sehangat pisang goreng yang terhidang usai turun dari penggorengan, berbagai kalangan berusaha menyikapi dan mengambil sikap. Sikap yang seperti apakah? Sejumlah forum diskusi baik berbau akademik setingkat para peneliti hingga para pemerhati kesejahteraan keluarga, kumpulan ibu-ibu di pasar-pasar harian, kerap memperbincangkan hal ini. Tak kalah lagi para mahasiswa yang peka terhadap lingkungan masyarakatnya. Namun, berbagai versi yang kita temukan di masyarakat dalam menyikapi kasus hangat ini tentulah berbeda.
Semua orang di Negara kita pastinya banyak yang kurang setuju dengan kenaikan BBM. Hal ini dapat dilihat dari adanya sejumlah forum diskusi bahkan aksi demo atas ketidaksetujuan atas hal ini. Namun, ada pula yag berusaha menyikapinya dengan jalan mencari solusi alternative untuk menganti BBM dengan energy terbarukan yang mampu menganti fungsi BBM, antara lain penggunaan elpiji sebagai bahan bakar kendaraan, pengoptimalan biogas, dan pengunaan tenga petir untuk kendaraan bermotor.
Bila digolongkan menurut sisi langkah yang ditempuh, didapatkan dua golongan yang memang sama-sama menentang kenaikan BBM, satu golongan kiri dan yang satunya golongan kanan. Golongan kiri memilih untuk meneriakkan suaranya agar pemerintah menurunkan harga BBM, dan golongan kanan berusaha mencari alternative penganti BBM. Lalu manakah yang Anda ikuti? Final destination is yours.
Sebagai mahasiswa tentunya kita memiliki misi mulia yang telah tertulis dalam tri darma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat dengan cara mengamalkan ilmu yang didapatkanya selama di bangku perkuliahan. Jika mahasiswa dapat memberikan solusi alternative yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat, tentulah misi mulia ini dapat diemban dengan baik. Jika kontribusi yang diberikan dapat bermanfaat di dunia pengetahuan dan penelitian, misal menciptakan alat alternative pengkonversi energy terbarukan yang dapat menganti fungsi BBMitu memang wajar. Karena di bangku perkuliahan tentunya mereka diajari untuk hal yang serupa. Namun, jika kontribusi yang diberikan hanya memunculkan kerusuhan. Tentunya muncul tanda Tanya besar “ Apa benar di bangku perkuliahan diajarkan hal yang demikian?”
Maka perlu adanya review ulang atas sikap apa yang kita ambil dalam menghadapi isyu kenaikan BBM. Sebagai insan yang intelek dan berjiwa sosial, patutlah kita berpikir secara nalar, mengintegrasikan antara hati dan pikiran. Tidak hanya ikut tindakan-tindakan sia-sia yang hanya membuang waktu saja, hanya bisa cuap-cuap namun tindakan kosong tak berguna. Jika hanya bisa berkicau tanpa usaha, tidak ada artinya belajar hingga perguruan tinggi. Marilah kita berfikir lebih jauh lagi, kontribusi apa selama ini yang telah kita persembahkan bagi masyarakat? Sudahkah kita mengamalkan ilmu yang kita pelajari hingga dewasa ini? Satu kata yang mugkin berarti “ talk less do more”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar